Maka Tenanglah Kau di Sana
Rasa duka akibat kematian orang-orang yang kita sayangi layaknya lumpur yang mengendap di dasar kolam ingatan.
Bertahun-tahun airnya jernih, membuat kita berilusi bahwa kita sudah merelakan, melepaskan. Namun satu stimulan saja dapat membuat seluruh lumpur muncul ke permukaan. Saat itulah kita tahu bahwa kita hanya berusaha lupa. Sedangkan luka masih mengendap di dalam sana. Akan tetap ada. Barangkali untuk selamanya.
“You are a tough girl," kata Diky saat kami nyimeng bareng di tepi jalan.
Sebelah tangannya menggenggam pergelangan tangan kiriku. Mengusap bekas luka sayatan yang masih baru. Luka yang sengaja kutorehkan dalam usaha berpamitan pada dunia.
“Masih sakit?” tanyanya.
Aku mendengus. “Lukanya bukan di sana, tapi di sini!” tanganku menepuk dada.
“You are a tough girl. You can conquer the world if you want." ia mengulang kalimat yang sama.
Aku tertawa. Entah karena pengaruh ganja, entah karena kalimatnya terdengar lucu di telinga. Menaklukkan dunia? Aku? Perempuan yang kehormatannya pernah direnggut berkali-kali? Perempuan yang harus rela membuang mimpi sebab biaya pendidikan tak terbeli?
“Chan, berjanjilah padaku. Jangan pernah melakukan itu lagi. Tetaplah hidup. Di antara kita harus ada yang jadi sarjana. Mewujudkan cita-cita,” suaranya agak samar, berlomba dengan raung kendaraan di depan sana.
“Kenapa harus di antara kita? Kenapa tidak kita berdua?” tanyaku.
Ia mendongak, menatap kelam langit malam. “Nama penamu Sky, bukan? Langit?”
“Jangan mengalihkan pembicaraan, brengsek!”
Ia menghela napas. “Ya, nanti kita kuliah sama-sama, ya. Aku jurusan bahasa Inggris, kamu bahasa Indonesia atau seni rupa.”
“Bagaimana kalau aku ingin masuk bahasa Inggris juga?”
“Bahasa Inggrismu, kan, jelek.”
“Brengsek!” kutinju lengannya.
Ia tertawa. Aku tertawa. Menertawakan dunia dan harapan-harapan kopong yang kami jejalkan ke dalamnya.
“Janji?” tanyaku sekali lagi ketika tawa kami berhenti.
“Aku berjanji!” ia mengangguk.
Janji dua orang remaja yang sama-sama sedang patah hati terhadap kehidupan. Dua orang murid teladan yang tak punya biaya untuk melanjutkan pendidikan. Dua orang sahabat yang sama-sama berjanji untuk memperbaiki masa depan.
Tapi si bangsat itu tidak menepati janjinya. Malah mati di penjara dua tahun kemudian.
Saat hidup sudah sedemikian curam, aku cabut dari jalanan.
Tapi Diky tidak.
Ia tidak punya kesempatan sebab harus menjadi tulang punggung bagi ibu dan kedua adik perempuannya. Tetap bergelut di tengah terik matahari, dari stopan ke stopan.
Sudah kukatakan padanya bahwa dengan otaknya, seharusnya dia bisa bekerja di tempat yang lebih baik, bukan menjadi pengamen dengan penghasilan tak seberapa. Tetapi kami berdua sama-sama tahu, mencari kerja di Bandung tak semudah membalik telapak tangan.
Maka ia tetap di sana, sebab ada mulut dan perut yang harus diberi makan.
Perlahan namun pasti, aku juga berhenti mengonsumsi apa pun yang membuat sel otakku mati. Bukan karena takut ditangkap polisi, melainkan tak sudi terlihat tolol hanya untuk rekreasi yang tak seberapa.
Tapi Diky tidak.
Jalanan menggerogoti kewarasannya. Kecerdasannya. Kebebasannya.
Saat tahu dia dipenjara, aku mengunjunginya untuk meminjamkan sebuah buku paling berharga. Buku yang mengubah hidupku: Supernova KPBJ.
Berharap bahwa buku yang sama dapat mengubah hidupnya juga. Memintanya untuk berjanji sekali lagi bahwa ia akan keluar dari sana dan mengembalikan buku itu padaku.
Tetapi buku itu tidak kembali, begitu juga dengan Diky.
Sudah 21 tahun berlalu. Meski kematiannya masih terasa menyakitkan, tetapi kata-kata yang diucapkan sambil mabuk itu akan terus bercokol di kepala.
Menjadi mantra.
Menjadi jantera.
“I am a tough girl …."
Hingga hari ini, aku tidak pernah berziarah ke makamnya. Mungkin nanti, suatu hari jika aku sudah menyandang gelar sarjana seperti cita-cita kami berdua.
Akan kukatakan padanya, “Hey, bangsat! Aku sudah sarjana. Menjadi perempuan tangguh meski tak lagi ingin menaklukkan dunia. Maka tenanglah kau di sana.”
Tenanglah kau di sana ….